Salah satu kisah paling menggetarkan dalam Al-Qur’an adalah ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya — sebuah ujian iman yang begitu dahsyat. Namun, satu pertanyaan klasik terus muncul dalam benak banyak pembaca: siapakah sebenarnya anak yang disembelih itu? Isma’il atau Ishaq?



Dua Pendapat, Satu Ujian

Dalam Surah Ash-Shaffat, Allah berfirman:

“Lalu Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 101)

Namun, nama anak itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam rangkaian ayat tentang penyembelihan (ayat 101–107). Maka, para ulama pun berbeda pendapat.

1. Pendapat Pertama: Ishaq

Beberapa ulama klasik seperti Muqātil bin Sulaymān dan al-Thabari[1] berpendapat bahwa anak yang hendak disembelih adalah Ishaq. Mereka mendasarkan argumennya pada ayat lain:

“Maka Kami sampaikan kabar gembira kepadanya tentang (kelahiran) Ishaq, dan setelah Ishaq, Ya’qub.”
(QS. Hud: 71)

2. Pendapat Mayoritas: Isma’il

Mayoritas ulama dan mufassir besar — seperti Sayyid Quthb, al-Fayrūzābādī, dan al-Nasafi — berpendapat bahwa yang disembelih adalah Isma’il[2]. Argumen mereka meliputi:

  • Konteks geografis dan historis: Isma’il tinggal di Makkah dan ikut membangun Ka’bah bersama ayahnya (lihat QS. Al-Baqarah: 127).
  • Hadis Nabi ﷺ:
    “Aku adalah anak dari dua orang yang hampir disembelih.”
    Diartikan bahwa yang dimaksud adalah kakeknya Isma’il dan ayahnya Abdullah.
  • Logika lokasi penyembelihan: Tempat penyembelihan diyakini terjadi di sekitar Makkah.

Abu ‘Amr bin al-‘Ala’, seorang ahli bahasa Arab, bahkan berkata: “Wahai Ashma’i, ke mana akalmu pergi? Bukankah Isma’il yang berada di Makkah dan membangun rumah suci bersama ayahnya?”

Kesimpulan

Perdebatan mengenai siapa anak yang disembelih merupakan bagian dari kekayaan tafsir Islam. Meski sebagian berpendapat Ishaq, mayoritas mufassir dan ulama sepakat bahwa Isma’il-lah anak yang disembelih.

Namun, sebagaimana dikatakan oleh al-Zajjāj, seorang ahli tafsir dan linguistik:

“Allah lebih mengetahui siapa di antara keduanya yang disembelih.”

Lebih dari Sekadar Nama

Inti dari kisah ini bukan sekadar pada siapa yang disembelih, tetapi pada pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah. Sebuah pesan spiritual yang tetap hidup dan dikenang setiap kali umat Islam merayakan Idul Adha — mengenang ketundukan Ibrahim dan keteguhan hati anaknya.








Catatan Kaki:

  1. Al-Thabari, Jāmiʿ al-Bayān fī Taʾwīl Āy al-Qurʾān, Juz 23, hlm. 51–54.
  2. Lihat: Sayyid Quthb, Fī Ẓilāl al-Qurʾān; al-Fayrūzābādī, Baṣāʾir Dhawī at-Tamyīz; al-Nasafi, Tafsīr an-Nasafi.