Jangan
pernah berputus asa dari kasih sayang (Rahmat) Allah swt., juga jangan pernah
memutusasakan orang lain dari-Nya. Bisa jadi maksiat yang dikerjakan orang lain,
itulah yang terakhir diperbuat dan setelahnya ia bisa menjadi orang yang lebih
baik dari kita.
Allah
swt. sendiri yang berfirman: “Janganlah kalian merasa suci, Allah swt lah yang
lebih mengetahui siapa yang paling bertakwa…”
Edisi
kali ini, saya mengutip beberapa cerita dari kitab Usfuriyah, karangan Syeikh
Muhammad b Abu Bakar Al-Usfuri tentang larangan berputus asa dari kasih
sayang-Nya.
******
![]() |
| Picture by Kapanlagi Plus |
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA bahwa ia berkata:
عن
ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الفاجر
الراجي رحمة الله تعالى أقرب إلى الله تعالى من العابد المقنط.
“Rasulullah
shollallahu ‘alahi wa sallama bersabda, ‘Seorang pendosa yang mengharapkan
rahmat Allah Ta’ala adalah lebih dekat kepada-Nya dari pada seorang ahli ibadah
yang putus asa dari rahmat-Nya.’”
Kisah Rahmat
Allah yang Menjamin Kebahagiaan Hamba.
Ibnu
Mas’ud berkata, “Aku diberitahu bahwa diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari
Umar, bahwa ada seorang laki-laki hidup pada zaman dahulu. Ia selalu rajin
melakukan ibadah. Ia membebankan dirinya sendiri untuk melakukan ibadah yang
tidak henti-hentinya ia lakukan sehingga menyebabkan orang- orang berputus asa
dari rahmat Allah. Kemudian ia meninggal dunia.
“Ya
Tuhanku! Apa yang aku dapatkan di sisi-Mu?” tanya si laki-laki.
Allah
menjawab, “Neraka”.
“Ya
Tuhanku! Lantas bagaimana dengan ibadahku dan kesungguh sungguhanku dalam
beribadah?” tanya si laki-laki.
Allah
menjawab, “Kamu telah membuat orang-orang putus asa dari rahmat-Ku di dunia,
maka sekarang Aku membuatmu putus asa dari rahmat-Ku.”
*****
Kisah Seorang
Pendosa yang Selamat Berkat Tauhidnya
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah saw., bersabda, “Ada
seorang laki-laki yang tidak pernah melakukan suatu amal kebaikan sama sekali.
Hanya saja ia memiliki tauhid.
Ketika
kematian akan mendatanginya, ia berwasiat kepada keluarganya, “Hai keluargaku!
Ketika aku telah mati nanti maka bakarlah jasadku di atas api sampai kalian
melihatnya telah berubah menjadi abu. Kemudian tebarkanlah abu jasadku ke laut
di musim angin.”
Setelah
ia benar-benar mati, keluarganya pun melakukan apa yang ia wasiatkan. Tiba-tiba
ia berada dalam kuasa Allah.
“Apa
yang membuatmu berwasiat seperti apa yang telah kamu wasiatkan (meminta dibakar)?”
tanya Allah.
“Aku
melakukannya karena takut kepada-Mu,” jawab si laki-laki. Kemudian Allah
mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya. Padahal ia tidak memiliki amal
kebaikan sama sekali kecuali tauhid.
*****
Kisah Jenazah yang Terasingkan
Ada
sebuah cerita yang berkaitan dengan hadis di atas bahwa ada seorang laki-laki
fasik yang mati pada zaman Nabi Musa as. Pada saat itu, orang-orang enggan
memandikan dan menguburkan jenazahnya karena kefasikannya. Kemudian mereka
memegang kakinya, menyeretnya dan membuangnya di tempat kotoran.
Kemudian
Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa as: “Hai Musa! Ada seorang laki-laki
yang telah mati di kampung ini dan dibuang di tempat kotoran ini. Ia adalah
salah satu kekasih-Ku. Orang-orang enggan memandikan, mengkafani, dan
menguburkan. Pergilah! Mandikanlah ia! Kafanilah ia! Sholatilah ia! Dan
kuburkanlah ia!” perintah Allah.
Kemudian
Musa ‘alaihi as-salam mendatangi kampung tersebut dan bertanya kepada penduduk
tentang mayit laki-laki itu.
“Laki-laki
itu telah mati dalam keadaan demikian dan demikian. Ia adalah orang fasik dan
terlaknati,” kata penduduk.
Nabi
Musa as bertanya, “Dimana tempat mayitnya? Allah telah memberiku wahyu untuk
mengurusnya. Beritahu aku dimana mayit itu berada?”
Lalu
penduduk memberitahu dan mengantarkan Musa ke tempat mayit laki-laki itu
berada. Akhirnya, Nabi Musa as pergi ke tempat itu.
Sesampainya
Nabi aMuss a di tempat yang diberitahukan oleh penduduk, ia pun melihat mayit
laki-laki itu terbuang di tempat kotoran. Penduduk memberitahu kepada Musa
tentang keburukan perbuatan-perbuatan si mayit ketika ia masih hidup.
Setelah
mereka selesai menjelaskan, Nabi Musa as bermunajat kepada Allah:
“Ya
Allah! Engkau memerintahku untuk mengubur dan mensholati mayit laki-laki itu.
Sedangkan orang-orang telah memberikan kesaksian keburukan atasnya. Nabi Musa
as.
Lalu
Allah berfirman, “Hai Musa! Benar apa yang telah dikatakan oleh penduduk
tentang keburukan perbuatan-perbuatan laki-laki itu, hanya saja laki-laki tersebut
meminta syafaat dari-Ku pada waktuk kematiannya dengan merayu-Ku melalui tiga
hal yang mana andai seluruh pendosa meminta-Ku dengan rayuan tiga hal tersebut,
maka Aku akan memberikannya. Lantas bagaimana bisa Aku tidak mengasihi
laki-laki itu? Padahal ia meminta kepada-Ku dengan hatinya. Sedangkan Aku
adalah Allah Dzat Yang Maha Paling Mengasihi.”
Musa
bertanya, “Apa tiga hal tersebut? Ya Allah!” Allah menjelaskan, “(Pertama)
Ketika ajal laki-laki itu telah dekat. Ia berkata:
"Ya Allah! Engkau adalah lebih mengetahui daripadaku. Sesungguhnya aku telah melakukan kemaksiatan dengan keadaan hatiku membenci kemaksiatan tersebut. Akan tetapi, ada tiga hal yang terdapat pada diriku hingga aku berani melakukan kemaksiatan itu dengan kondisi hati yang membencinya. Pertama adalah hawa nafsu. Kedua adalah teman buruk. Ketiga adalah Iblis, semoga laknat Allah menimpanya. Tiga hal ini telah menjerumuskanku ke dalam lubang kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang mengetahui apa yang aku ucapkan. Oleh karena itu ampunilah aku!"
(Kedua)
Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata:
“Sesungguhnya Engkau mengetahui kalau aku telah melakukan kemaksiatan, dimana posisiku saat itu adalah bersama orang-orang fasik. Akan tetapi aku senang berteman dengan orang-orang sholih dan aku menyukai kezuhudan meraka. Posisiku bersama mereka adalah lebih aku sukai daripada bersama orang- orang fasik.”
(Ketiga)
Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata:
“Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu daripadaku kalau orang- orang sholih adalah lebih aku sukai daripada orang-orang fasik hingga andai ada dua orang, yang satu adalah orang sholih dan yang satunya adalah orang buruk, mendatangiku, maka aku akan mendahulukan memenuhi hajat orang satu yang sholih dan mengakhirkan hajat orang satunya yang buruk.’”
(Dalam riwayat Wahab bin Munabbih, perkataan laki-laki yang ketiga adalah)
“Ya
Allah! Andai Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku maka para wali dan
para nabi-Mu akan senang dan setan, musuhku dan musuh-Mu, akan bersedih. Tetapi
apabila Engkau menyiksaku, maka setan dan teman-temannya akan senang dan para
nabi dan para wali-Mu akan bersedih. Dan aku tahu kalau rasa senang para wali
kepada-Mu adalah lebih Engkau sukai daripada rasa senang setan dan
teman-temannya. Oleh karena itu ampunilah aku! Ya Allah! Sungguh Engkau
mengetahui apa yang aku ucapkan. Kasihilah aku! Dan maafkanlah aku!”
Kemudian
Allah swt. berkata:
“Aku
telah mengasihinya, memaafkannya dan mengampuninya. Sesungguhnya Aku adalah
Dzat Yang Pengasih dan Penyayang, terutama kepada orang yang mengakui dosanya
di hadapan-Ku. Oleh karena laki-laki ini telah mengakui dosanya maka Aku
mengampuni dan memaafkannya. Hai Musa! Lakukanlah apa yang telah Aku
perintahkan!
Sesungguhnya
Aku akan mengampuni orang-orang yang mau mensholati jenazah laki- laki itu dan
menghadiri penguburannya dengan perantara kemuliaannya”
Kesimpulan
- Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah – Seberat apa pun dosa seseorang, rahmat Allah selalu lebih besar. Bahkan seorang pendosa yang berharap kepada rahmat Allah lebih dekat kepada-Nya daripada ahli ibadah yang putus asa.
- Jangan Menjadikan
Orang Lain Putus Asa dari Rahmat Allah – Seorang hamba yang membuat orang
lain merasa mustahil mendapatkan ampunan Allah justru bisa terhalang dari
rahmat-Nya sendiri.
- Tauhid adalah Kunci
Keselamatan – Meskipun seseorang minim amal, tauhid yang murni dan rasa
takut kepada Allah bisa menjadi sebab pengampunan.
- Keikhlasan dan
Pengakuan Dosa Membawa Ampunan – Allah sangat mengasihi hamba-Nya yang
mengakui kesalahan dan memohon ampunan dengan tulus.
- Jangan Menilai
Seseorang Hanya dari Masa Lalunya – Bisa jadi seseorang yang terlihat
buruk di mata manusia ternyata mendapatkan kasih sayang Allah karena
hal-hal tersembunyi di hatinya.
Kisah
ini mengajarkan agar kita senantiasa berharap kepada rahmat Allah, tidak mudah
menghakimi orang lain, dan selalu kembali kepada-Nya dengan hati yang ikhlas.

0 Comments