Sebenarnya
saya ingin menjelaskan tentang diturunkannya Al-Qur’an dengan Sab’ati ahruf
(tujuh huruf) untuk melanjutkan bacaan sekaligius ditulisan yang lalu, ini berdasarkan
hadis “Nuzila al-Qur’an ‘ala Sab’ati ahruf,” tetapi sebelum itu, kita mundur
sedikit pada bab sebelumnya.
Mengenai
tujuh huruf, silahkan nanti di cek sendiri di dalam kitabnya, atau
kapan-kapan saya akan menulisnya – bagian ini menjadi kolom terakhir dari “Bagaimana
Allah swt, menurunkan Al-Qur’an?”
Dari
kelima part ini, tentu belum mewakili kompleksitas dan banyaknya
pengetahuan tentang bagaimana diturunkannya Al-Qur’an. Namun, setidaknya sudah mencukupi
sebagai pengetahuan awal tentang diturunkannya Al-Qur’an.
Edisi
kali ini, saya coba uraikan bagaimana pandangan Al-Suyūṭī (w.911H/1505M) tentang
surat yang pertama kali diturunkan – ia juga menjelaskan surat yang terakhir
turun dalam bab tersendiri. Silahkan merujuk langsung kitab-kitab ‘Ulumul
Qur’an, baik Al-Suyuti atau Al-Zarkasyi, dan lainnya.
*****
![]() |
| Gambar by BDK Kementerian Agama Semarang |
Ulama berbeda pendapat tentang ayat/surat yang pertama kali diturunkan. Ada 4 pendapat sebenarnya apa yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an?
Pendapat pertama, dan inilah yang shahih, yaitu “iqra’ bismi rabbika.”
Imam
Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Pertama
kali Rasulullah saw. menerima wahyu adalah mimpi yang benar dalam tidur, maka
Nabi saw. tidak melihat mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya subuh.
Kemudian Nabi dibuat senang untuk menyendiri, maka beliau pergi ke Gua Hira’
untuk beribadah di dalamnya beberapa malam yang dapat dihitung dan membawa
perbekalan untuk itu kemudian kembali kepada Khadijah ra. Maka Khadijah memberi
beliau perbekalan seperti sebelumnya, hingga al-haq (kebenaran) itu membuatnya
terkejut, sedangkan dia berada di Gua Hira’. Maka datanglah malaikat (Jibril)
kepadanya di gua itu. Malaikat itu berkata, ‘Bacalah (ya Muhammad).’
Nabi
saw. berkata, ‘Kemudian saya katakan, Saya tidak dapat membaca, kemudian dia
memegang dan mendekapku hingga aku merasa berat, kemudian melepaskanku dan dia
berkata, Bacalah (hai Muhammad), maka aku katakan, Saya tidak dapat membaca,
kemudian Jibril mendekapku yang kedua, hingga aku merasa payah,kemudian
melepaskanku, kemudian ia berkata, Bacalah (hai Muhammad), maka aku katakan,
Aku tidak dapat membaca, maka ia mendekapku yang ketiga hingga ku merasa payah,
kemudian melepaskanku, kemudian ia berkata, Iqra’ bismi rabbika hingga maa lam
ya’lam (QS. al-‘Alaq: 1-5).’ Kemudian Rasulullah saw. pulang dengan membawa
ayat-ayat itu dalam keadaan gemetar…” (al-Hadits).
Imam
al-Hakim juga meriwayatkan di dalam al-Mustadrak, begitu juga al-Baihaqi
di dalam ad-Dalaail dan keduanya menilai kebenarannya (shahih), dari
Aisyah, ia berkata: bahwa surat yang turun pertama kali dari Al-Qur’an adalah:
“iqra’ bismi rabbika.”
Imam
ath-Thabrani meriwayatkan di dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Kabir, dengan
sanad berdasarkan kriteria hadis shahih, dari Abi Raja’ al-‘Utharidi, ia
berkata: Abu Musa pernah membacakan (Al-Qur’an) pada kami, kemudian kami duduk
melingkar di sekelilingnya. Dia memakai dua pakaian putih, dan ketika membaca
surat: “iqra’ bismi rabbika alladzii khalaq”, beliau berkata, “Ini adalah
pertama kali surat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.”
Sa’id
bin Manshur berkata di dalam kitab Sunan-nya: telah menceritakan kepada kita
Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, dari ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi saw., kemudian ia
berkata kepadanya, “Bacalah (ya Muhammad). Nabi berkata, ‘Apa yang harus saya
baca? Demi Allah, saya tidak bisa membaca.’ Maka Jibril berkata, ‘Iqra’ bismi
rabbikalladzii khalaq.’ Maka Nabi berkata, ‘Inilah yang pertama kali
diturunkan.’”
Abu
‘Ubaid berkata di dalam Fadha’il-nya: telah menceritakan kepada kita
Abdurrahman, dari Sufyan, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata,
“Sesungguhnya pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah ‘iqra’
bismi rabbik’ dan ‘Nuun wal qalami’ (QS. al-Qalam: 1).”
Ibnu
Asytah mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, al-Mashahif, dari ‘Ubaid
bin ‘Umair, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi saw. dengan membawa selembar
(sutra tertulis), kemudian ia berkata, “Bacalah (ya Muhammad).” Nabi saw.
berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Ia berkata, “Iqra’ bismi rabbik,” maka
mereka mengetahui bahwa itulah pertama kali surat yang diturunkan dari langit.
Dikeluarkan
juga dalam sebuah riwayat dari az-Zuhri, sesungguhnya ketika Nabi berada di Gua
Hira’, tiba-tiba datang seorang malaikat (Jibril) dengan membawa selembar kain
dari sutra, tertulis di atasnya: “iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq” hingga
“maa lam ya’lam” (QS. al-‘Alaq: 1-
******
Pendapat
kedua,
adalah “Yaa ayyuhal muddatstsir”, berdasarkan hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, ia berkata: aku
pernah bertanya kepada Jabir bin Abdillah, “Mana Al-Qur’an yang diturunkan
terlebih dahulu: yaa ayyuhal muddatstsir atau iqra’ bismi rabbika?”
Jabir
menjawab, “Saya akan menceritakan kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh
Rasulullah saw. kepada kami. Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya aku pernah
berada di Gua Hira’. Ketika sudah selesai keberadaanku di gua itu, aku turun
(keluar dari gua itu) kemudian aku berada di tengah lembah. Aku melihat ke
depan dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri, kemudian aku melihat ke langit,
tiba- tiba (aku melihat) Jibril. Aku merasa takut, maka aku mendatangi Khadijah
kemudian Khadijah menyuruh mereka, dan mereka pun memberikan selimut padaku.
Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya: Yaa ayyuhal muddatstsir, qum fa andzir.’”
Hadis ini ditanggapi oleh pendukung pendapat pertama dengan beberapa argumentasi sebagai berikut:
Sesungguhnya yang ditanyakan adalah tentang turunnya satu surat secara sempurna maka menjadi jelas bahwa surat al-Muddatstsir diturunkan secara keseluruhan sebelum turunnya surat “Iqra’” secara sempurna karena yang turun pertama adalah ayat-ayat di awalnya. Ini diperkuat dengan hadits yang ada di kedua kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) juga dari Abi Salamah dari Jabir (ia berkata): aku mendengar Rasulullah saw. sedang berbicara tentang masa kevakuman wahyu, maka beliau bersabda dalam haditsnya, “Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar ada suara dari langit, kemudian aku angkat kepalaku, ternyata ada seorang malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira’ sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi, maka aku pulang dan aku katakan, ‘Tolong selimuti aku, selimuti aku,’ maka mereka memberikan selimut padaku, dan Allah menurunkan: ‘yaa ayyuhal muddatstsir’.”
Ungkapan
Nabi saw.: “malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hira’” menunjukkan
bahwa kisah yang ada di dalam hadits ini terjadi setelah kisah Hira’ yang turun
di dalamnya: “iqra’ bismi rabbik”.
Sesungguhnya
apa yang dimaksudkan oleh Jabir tentang yang pertama itu adalah yang pertama
secara khusus, yaitu masa setelah wahyu itu vakum (terputus), bukan yang
pertama kali turun secara mutlak.
Sesungguhnya
yang dimaksud adalah yang pertama kali turun secara khusus dengan adanya
perintah untuk mengingatkan (berdakwah). Sebagian ulama mengungkapkan demikian
itu dengan istilah: “pertama kali yang diturunkan untuk kenabian adalah: “iqra’
bismirabbik”, dan pertama kali yang diturunkan untuk kerasulan adalah: “yaa
ayyuhal muddatstsir”.
Yang
dimaksud adalah pertama kali yang diturunkan dengan sebab terdahulu yaitu apa
yang terjadi pada Nabi yang beliau memakai selimut karena ketakutan. Adapun
“iqra” itu turun sejak awal tanpa ada sebab yang mendahului. Pendapat ini
disebutkan oleh Ibnu Hajar.
Bahwa
Jabir mengeluarkan riwayat tersebut atas dasar ijtihadnya, bukan dari
riwayatnya. Dengan demikian maka hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah lebih
didahulukan. Pendapat ini dikatakan oleh al-Karmani.
Jawaban
paling baik dari berbagai jawaban di atas adalah yang pertama dan terakhir.
********
Pendapat
ketiga,
bahwa yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Imam
Fakhruddin ar-Razi berkata di dalam tafsirnya, bahwa Ibnu Abbas dan Mujahid
berpendapat bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah Iqra’, dan sebagian
besar ahli tafsir berpendapat bahwa surat yang pertama kali turun adalah
“Fatihatul kitab”.
Ibnu
Hajar berkata: pendapat yang diikuti oleh kebanyakan para imam adalah pendapat
pertama. Adapun pendapat yang disandarkan pada sebagian besar dari ulama, maka
tidak ada yang berkata demikian kecuali sedikit sekali dibanding dengan
orang-orang yang berkata dengan pendapat pertama.
Sebagai
hujahnya: hadits yang dikeluarkan riwayatnya oleh Imam al-Baihaqi di dalam
kitab ad-Dalaail, dan Imam Al-Wahidi melalui Yunus bin Bukair, dari Yunus bin
‘Amr, dari ayahnya, dari Abi Maisarah ‘Amr bin Syarahbil, sesungguhnya
Rasulullah saw. berkata kepada Khadijah, “Sesungguhnya bila aku sedang seorang
diri maka aku mendengar seruan (panggilan). Demi Allah, aku benar-benar
khawatir bila terjadi apa-apa.”
Kemudian
Khadijah berkata, “Ma’adzallah (semoga Allah melindungi engkau), Allah
tidak akan berbuat jahat kepadamu. Demi Allah, sesungguhnya engkaulah orang
yang benar-benar menyampaikan amanah, menyambung silaturrahim, dan jujur dalam
tutur kata.”
Ketika
Abu Bakar masuk maka Khadijah menyebut haditsnya pada Abu Bakar, dan Khadijah
berkata, “Pergilah engkau bersama Muhammad kepada Waraqah.” Keduanya pergi
menemui Waraqah, dan keduanya menceritakan kepadanya.
Muhammad
berkata, “Apabila aku seorang diri maka aku mendengar suara memanggil di
belakangku: ‘Ya Muhammad! Ya Muhammad!,’ kemudian aku pergi keluar.” Waraqah
berkata, “Jangan berbuat begitu,apabila datang kepadamu maka tetaplah (di
tempatmu) hingga kamu mendengar apa yang ia katakan, kemudian datanglah
kepadaku dan beritakan kepadaku.”
Kemudian
ketika Muhammad sendirian maka Jibril memanggilnya, “Ya Muhammad, katakanlah
‘Bismillahirrahmanirrahim, alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’ hingga ‘wa
ladhdhaallin’…” (al-Hadits). Hadits ini mursal, para perawinya tsiqat.
Imam
al-Baihaqi berkata, “Apabila ia hadits mahfudz maka kemungkinan ia adalah
berita tentang turunnya surat al-Fatihah setelah turun kepada Nabi saw. surat
Iqra’ dan surat al-Muddatstsir.”
*****
Pendapat
yang keempat,
mengatakan bahwa pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah
“Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Imam
al-Wahidi mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanadnya dari Ikrimah dan Hasan,
keduanya berkata, “Pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah
‘Bismillahirrahmaanirrahim’ dan awal surat ‘Iqra’ bismi rabbik’.”
Ibnu
Jarir ath-Thabari dan lainnya juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui
adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Pertama kali yang dibawa turun
oleh Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw. adalah perkataan Jibril ‘Ya
Muhammad!, mohonlah perlindungan (kepada Allah), kemudian katakan
‘Bismillahirrahmaanirrahim’.”
Al-Suyuti berkomentar bahwa pada dasarnya ini
tidak dianggap pendapat, karena sudah tentu konsekuensi turunnya suatu surat
adalah turunnya “basmalah” bersama surat itu, maka ia merupakan ayat
yang pertama kali turun secara mutlak.
Berkenaan
dengan pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’anul Karim, ada sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra., ia berkata,
“Sesungguhnya pertama kali yang diturunkan adalah surat al-Mufashshal.
Di dalamnya disebutkan surga dan neraka, hingga ketika manusia melompat untuk
masuk Islam maka turunlah (ayat-ayat yang menjelaskan tentang) halal dan
haram.”
Penjelasan
tersebut agak sulit dipahami, karena pertama kali yang diturunkan adalah
“iqra”, padahal tidak ada di dalam surat “iqra” penyebutan surga dan neraka.
Tetapi kesulitan ini dapat dijawab bahwa di sana ada kata “min” yang
diperkirakan sehingga maknanya: di antara pertama kali yang diturunkan, dan
yang dimaksud adalah surat al-Muddatstsir, karena ia merupakan pertama kali
yang diturunkan setelah masa vakumnya (terputusnya) wahyu, dan di akhirnya
terdapat penyebutan surga dan neraka.
Maka
kemungkinan akhir surat al-Muddatstsir itu diturunkan sebelum turunnya
ayat-ayat kelengkapan dari surat “iqra.”
Kesimpulan
Terdapat
empat pendapat mengenai ayat atau surat pertama yang diturunkan dalam
Al-Qur’an:
- Pendapat pertama
(paling shahih):
Surat Al-'Alaq (1-5) – Berdasarkan hadis dari Aisyah dan riwayat
lain, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. di Gua Hira adalah
"Iqra' bismi rabbika".
- Pendapat kedua: Surat Al-Muddatstsir
– Berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah, wahyu pertama setelah masa
kevakuman adalah "Yaa ayyuhal muddatstsir".
- Pendapat ketiga: Surat Al-Fatihah
– Sebagian ulama berpendapat bahwa wahyu pertama adalah "Fatihatul
Kitab", tetapi riwayatnya lemah dibanding pendapat pertama.
- Pendapat keempat: Basmalah
("Bismillahirrahmanirrahim") – Dikatakan bahwa Jibril
pertama kali meminta Nabi mengucapkan Basmalah sebelum wahyu turun, tetapi
ini lebih sebagai bagian dari surat yang turun.
Pendapat
yang paling kuat adalah yang pertama, yaitu surat Al-'Alaq (1-5).

0 Comments